Panas terik matahari menemani kami di sebuah gedung banyak orang menimba ilmu. Agatha dan Karina adalah 2 orang yang tak terpisahkan sejak mereka di taman kanak-kanak. 

“Hari ini cuacanya panas sekali hingga keringat di kepalaku tak dapat berhenti mengalir.” Kata Agatha

“Iya, suasana seperti ini lebih nyaman jika kita mengisi energi saja di kantin sekolah.” Balas Karina

Kantin sekolah dipenuhi suara riuh bersahutan-sahutan, siswa-siswi berdesakkan untuk mendapatkan giliran pertama. Kami pun memutuskan untuk memilih gerobak makanan yang longgar dan tak memakan waktu lama untuk mendapatkannya. Nasi goreng adalah makanan yang kami pilih untuk mengisi perut kami yang kosong

“Nasi goreng ini lumayan rasanya walaupun sepi pembeli” ucap Agatha 

“Benar..setidaknya kita tidak harus berdesak-desakkan untuk mendapatkannya” balas Karina

Pada saat kami selesai menyelesaikan makan di kantin sekolah, dalam perjalanan menuju kembali ke kelas tiba-tiba saja sorot mataku terarah pada lapangan basket sekolah. Disana terdapat laki-laki yang aku kagumi sejak awal aku masuk ke SMA ini. 

“Agatha kau lihat apa?” Tanya Karina,kemudian sorot mata Karina mengikuti arah pandang sahabatnya itu. 

“Ah..ternyata itu yang kau lihat, Marcel laki-laki yang sejak dulu kau suka dan kagumi.” 

“I..iya.” jawab Agatha. 

Sejak saat itu lah Agatha selalu melihat dan memandang Marcel dari kejauhan, setiap kali Ia dan karina sahabatnya kembali dari kantin. 

Bel sepulang sekolah pun terdengar. 

Semua siswa pun bergegas keluar kelas, Agatha dan Karina lah yang keluar paling akhir. Seluruh lorong kelas telah bersih dari penghuninya. Tiba-tiba pada saat Agatha dan Karina ingin pulang bersama, mereka terkejut karena suasana lapangan yang telah ramai seperti akan ada pertandingan atau pertunjukkan untuk ditonton. 

Pada akhirnya terdengarlah suara seseorang di tengah lapangan yang memanggil sebuah nama hingga seluruh pandangan terarah pada orang tersebut. 

“Karina, bisakah kita bicara sebentar?” 

Agatha dan Karina pun terkejut dan melihat ke arah orang yang bicara padanya. Akhirnya Karina menghampiri orang yang memanggilnya tersebut ke tengah lapangan dengan menarik tangan sahabatnya itu. 

“Marcel..” 

Ya benar orang yang memanggilnya tadi adalah Marcel, laki-laki yang sahabatnya yaitu Agatha suka dan kagumi.  Akan tetapi, Karina bertanya-tanya dalam hati mengapa namanya yang dipanggil bukan sahabatnya. 

“Aku ingin langsung menyampaikan sesuatu padamu tanpa harus mengulur waktu lagi..” 

Suasana pun menjadi hening, tidak ada yang bergerak dan membuka mulutnya. 

“Aku suka padamu Karina, aku telah menyimpan rasa ini sejak awal aku melihatmu..” 

Agatha dan Karina pun tak dapat menahan rasa terkejutnya. Agatha pun yang mendengarkan pun langsung pergi dari tempat itu tanpa peduli dengan orang-orang dan sahabatnya yang memanggil namanya. 

“Marcel maaf aku tidak bisa membalas perasaanmu itu, karena kau tau bahwa yang selama ini menganggumi itu adalah sahabatku bukan diriku. Jadi maaf aku tidak bisa, karena sahabat lebih penting bagiku”

Semenjak peristiwa itu, hubungan persahabatan Agatha dan Karina pun jauh dari kata baik. Karina yang mencoba berbicara dan meminta maaf kepada Agatha sahabatnya itu, justru tidak mendapat respon yang baik dari sahabatnya itu yang selalu menghindar setiap kali bertemu pandang. 

Marcel pun masih terus berusaha untuk mendapat balasan dari perasaan yang selama ini ia pendam. 

Hingga tiba-tiba Karina mendapat kabar yang tidak baik mengenai sahabatnya yang selama ini menghindar dan menghilang tanpa kabar. Ia mendapat pesan dari orang tua Agatha bahwa sahabatnya ini mengalami kecelakaan dan mendapat luka yang parah. Karina yang mengetahui akan pesan itu pun tidak dapat berkata-kata lagi dan pandangan nya pun kosong. Setetes air bening pun mengalir dari matanya. Tanpa menunggu lagi Ia langsung bergegas ke rumah sakit tempat sahabatnya berada. 

Sesampainya di rumah sakit, disana sudah ada orang tuanya yang tidak dapat membendung air matanya. Pada saat itu pula dokter keluar dari ruangannya dan memberi tahukan mengenai kondisi Agatha. 

“Tante..Om, maaf ini salah saya..” ucap Karina sambil berlutut dan menggenggam tangan ibu dari sahabatnya itu. 

“Ini bukan salahmu Karina, sudah jangan seperti ini ya” jawab Ibu Agatha 

“Iya ini bukan salahmu Karina.” Jawab ayah Agatha.

Seminggu kemudian… 

Seminggu sudah Karina di rawat dan selama itu pula Ia belum sadarkan diri. Karina selalu menemani sahabatnya itu saat sepulang sekolah. 

“Agatha maaf.. ini salahku, ku mohon buka matamu..” kata Karina memohon sambil menggenggam tangan sahabatnya itu.

Sedih, menyesal, sakit itulah yang dirasakan Karina dalam hatinya saat melihat sahabatnya terbaring sakit. 

Tiba-tiba Karina membuka matanya dan langsung diperiksa oleh dokter. Senang dan bersyukur itulah yang dirasakan orang tua serta sahabat Agatha bahwa Agatha keadaannya telah membaik. 

“Agatha aku meminta maaf padamu karena peristiwa itulah dan sikapku selama ini yang membuat keadaanmu menjadi seperti ini.” Kata Karina sendu. 

“Tidak Karina.. jangan meminta maaf ini bukan salahmu. Kamu memiliki hak atas perasaan yang ada dalam dirimu. Aku telah merelakan dan mengikhlaskannya demi sahabatku.” Jawab Agatha disertai senyum indah yang terukir di bibirnya. 

“Tidak Karina, aku sudah berkata dan memutuskan kepada Marcel bahwa aku lebih memilih persahabatan kita dibandingkan dengan seorang laki-laki yang dapat memisahkan persahabatan yang telah lama kita jalani bersama..” 

Mereka berdua pun tersenyum dan berjanji akan terus bersama menjadi sahabat apapun yang terjadi dan akan meninggalkan sesuatu yang dapat merusak persahabatannya. Sahabat adalah orang yang selalu ada, memahami dan mengerti perasaan kita apapun situasinya. Oleh karena itu, sahabat lebih penting dan lebih mengetahui kita dibandingkan dengan orang yang memiliki perasaan kita hanya untuk sementara waktu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *