Sumber: Pinterest.com

Rumah berpagar besi itu terlihat sangat besar tetapi selalu sepi. Hening. Layaknya rumah tidak berpenghuni. Selepas seluruh anaknya membangun rumah tangga dan melancong ke kota. Rumah besar itu hanya ditinggali seorang wanita tua dan satu pembantu rumah tangga. Jangan lupakan Blacky, anjing penjaga rumah yang malas menggonggong karena

sudah tua. Hanya ada wanita itu karena suaminya merantau lebih dulu ke surga.

Setiap hari wanita tua itu selalu duduk di sofa dekat pintu ditemani si Blacky. Bukan pintu   utama tapi pintu yang kini biasa digunakan untuk keluar masuk. Ia teringat masa-masa indah kebersamaan dan kehangatan keluarga di rumahnya.

“Tiada yang lebih setia selain kesepian,” begitulah kalimat yang tiba-tiba keluar dari bibir wanita tua itu.

Ramadan sudah hampir habis. Anak-anaknya belum satu pun yang memberi kabar. Setiap hari ia bertanya pada Karin, pembantunya, kalau-kalau anak-anaknya ada yang menelepon. Hanya ada raut kesedihan di wajahnya kala mendapat jawaban tidak ada telepon dari siapa pun.

Wanita tua itu usianya menginjak tujuh puluh sembilan tahun. Penglihatannya sudah kabur. Pendengaran pun berkurang drastis. Wajah eloknya sudah berhiaskan keriput. Semangat hidupnya masih tinggi. Ia hanya ingin berkumpul dengan anak-anaknya saja sampai ajal menjemput.

Sering ia mendapat pikiran-pikiran kalau anak-anaknya sudah tidak ingat padanya lagi. Harta dan uang tidak bisa mengobati luka hati dan kerinduan. Yang bisa keluar dari bibirnya hanyalah senyum kesabaran akan penantian.

Tak lupa ia menyelipkan nama anak-anaknya dalam doa di sepertiga malamnya. Mana ada seorang ibu yang tidak ingat pada anaknya. Meskipun hatinya dilanda kekeringan. Hidupnya memang digelimangi harta namun ia tak menemukan bahagia di dalamnya. Tangan keriput yang semakin kurus itu gesit mengayunkan sapu. Ia juga mengelap semua kursi di ruang keluarga. Tempat istimewa di mana ia menghabiskan waktu bersama keluarga utuhnya. Samar, bibirnya yang sudah mengkeriput itu tersenyum kecil. Bayang-bayang tawa ria yang dahulu kala ia rasakan bersama keluarga utuhnya bergejolak dalam memorinya.

Setelah sibuk membersihkan dan membereskan rumah bersama Karin, kini ia beristirahat sejenak sambil memikirkan hidangan apa yang akan ia sajikan untuk anak-anaknya di hari lebaran nanti.

“Rin, sebentar lagi anak-anakku pulang, apa yang harus aku masak untuk mereka?” tanyanya pada pembantu rumah tangga itu.

“Seperti biasa saja, Bu,” Karin bingung tuannya ini benar- benar lupa atau memang penyakit pikunnya semakin parah.

Wanita tua itu memandangi foto berpigura besar di tembok ruang tamu. Tangan rentanya mencoba meraih foto itu. Rasanya ingin sekali mengelus tiap wajah anak-anaknya itu dan mencium tangan suaminya. Tapi apa daya anak- anaknya belum pulang. Begitulah kehampaan yang setiap hari wanita tua itu rasakan.

“Ibarat sebuah parang, rindu itu bisa membunuh siapapun,” ucap wanita tua itu sambil berjalan menuju kamarnya. Pagi itu merupakan dua hari menuju hari lebaran. Semuanya sudah siap, tinggal menunggu anak-anaknya pulang. Rasa sepi yang sudah lama ia rasakan sebentar lagi akan hangus. Begitulah pikirnya.

Sedari tadi ia sudah berdandan memakai baju bagus, siapa tahu anak-anaknya pulang. Seperti biasa, ia duduk di sofa dekat pintu ditemani seekor anjing tua. Menunggu kedatangan anaknya.

“Mari, Bu. Mobil sudah siap,” Karin mengajak wanita tua itu pergi ke suatu tempat.

Ya, tempat itu adalah makam suami dan anak-anak wanita tua itu. Tahun lalu wanita tua itu kehilangan segalanya. Anak-anaknya mengalami kecelakaan parah saat perjalanan pulang kampung untuk merayakan lebaran bersamanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *