Anindita dan Whina merupakan dua orang kakak-adik yang memiliki hubungan sangat dekat. Kedekatannya terlampau santai dan kurang ajar. Judes dan kasar memang kesan pertama jika orang lain melihat mereka. Namun, siapa sangka dua bersaudara ini aslinya penakut, apalagi kalau soal hantu. Kedua orang tuanya yang selalu sibuk kesana-kemari untuk bekerja ini dan itu membuat keduanya sering berada di rumah, jadi mau tidak mau Anindita dan kakaknya hanya berdua saja, selalu. Hal tersebutlah awal penyebab mereka menjadi penakut. Faktanya, untuk saat itu baru diketahui ada tiga hantu di rumahnya. Penari topeng agaknya berparas cantik yang terkadang menari-nari di area belakang rumah mereka tepatnya di gudang, Seorang anak kecil berkelamin laki-laki yang sering berjalan mengitari rumah yang selalu ingin bermain dengan kedua kakak beradik tersebut, maupun Kakek dengan setelan jas yang hanya diam.. diam dimana? Anindita tidak tau lokasi dimana kakek itu berada karena tidak sempat menanyakannya pada sahabatnya Jasmita atau nama panggilan kekinian yang diharapkannya adalah Jessi, sahabatnya yang paham betul akan hal-hal mistis. Jelas paham betul, karena ia memiliki indra keenam yang hanya diketahui kedua sahabatnya yaitu Anindita dan Kay. 

Kehadiran ketiganya dapat diketahui kakak beradik itu karena selalu tercium bau melati setiap ‘mereka’ itu hadir. Bau melati yang seperti minyak wangi itu sepertinya milik si penari, bau melati yang bercampur bau matahari itu milik si anak kecil, dan harum melati yang bercampur tanah sudah pasti milik si kakek. Tidak bermaksud sok tau atau meledek, tapi Anindita hanya mengira-ngira saja.

Ingin lebih dekat dan mengajak Anindita bermain, mereka sering mengganggunya lewat mimpi ataupun secara langsung. Dua kasus yang paling ditakutinya adalah dilempari batu ketika tertidur di kamar dan mimpi mengerikan ditimpa segunung pakaian yang membuatnya hampir kehabisan napas di tengah malam bulan purnama dan membuat satu rumah heboh. Walau begitu, mereka tetap hidup berdampingan karena tidak pernah ada niat yang lebih jahat dari pada itu.

Baru-baru ini. Anindita sering keluar masuk rumah sakit yang mengakibatkan rumahnya lebih sepi dari biasanya. Kakaknya Whina sudah dari tiga bulan lalu tidak di rumah karena kuliah di luar kota. Sementara ayah dan ibunya bergantian menjaganya di rumah sakit. Setelah seminggu dirawat dan kembali ke rumah, Anindita dan ibunya merasa aneh ketika melihat hawa rumah padahal mereka belum masuk. Hawa yang sedikit panas dan membuat mereka jengkel entah datang dari mana. Anindita saat itu juga langsung mencium bau melati. Ah mereka menyambutnya, pikirnya. Namun, baunya berbeda karena kali ini seperti campuran bau anyir pekat dengan sedikit bau busuk seperti tikus mati. Tak digubrisnya hal itu, Anindita tetap melakukan aktivitasnya seperti biasa dan entah bagaimana ia jatuh sakit lagi keesokan paginya.

Merasa janggal karena dokter sudah mengatakan bahwa anak itu sudah sembuh, ibunya mulai curiga. Sampai ketika menemani Anindita, dihubunginya kakaknya lewat ponsel. Disitu diceritakannya semua kejadian. Kakaknya yang merasa aneh tak sengaja menanyakan kepada Anindita bagaimana pendapat Jessi dan si Adik langsung teringat bahwa sebelum sakit, tepat sehari sebelum masuk rumah sakit, kedua temannya itu bermain dan Kay hampir kesurupan dekat gudang. Mulai diusut seperti benang merah, ibunya mengaku bahwa dari awal memang rumah itu ada memang tak pernah ada pemberkatan, namun kenapa baru sekarang? 

Aneh dirasakan keluarga itu karena kurang lebih hampir 100 tahun rumah itu ditinggali, dari berupa tanah kosong lalu dibentuk seperti rumah Belanda, lalu direnovasi lagi terus-menerus ketika rusak tidak pernah ada satu kejadian pun yang membuat sampai seperti saat ini. Selain belum diberkati, Kakaknya sempat curiga dan berkata bahwa zaman sekarang orang-orang sering ‘mengirim’ sesuatu kan ketika ada yang tidak disukainya? Hal itu tentu langsung ditepis ibunya karena mana ada orang yang akan mengirim sesuatu karena keluarga mereka tidak punya hal yang bisa membuat orang lain iri. Setelah mendengar hal itu, Anindita kembali merenung bahwa hal itu bisa saja terjadi dan ia merasa bahwa mungkin dia penyebab hadirnya si melati busuk itu. Yang dibatinkannya benar adanya. Anindita baru tau bahwa Jessi tidak suka dengan dirinya karena terlihat lebih menonjol dibandingkan dirinya. Kisah asmara pada umumnya, Jessi tidak suka bahwa laki-laki yang disukainya dekat dengan Anindita. Maka, hal-hal yang menjadi awal kebencian itulah yang membuat Jessi mengeluh dan mengirim teman baiknya, Ratri ke rumah Anindita. 

Setelah kepulangan Anindita, ayahnya yang sedari awal tidak percaya dengan hal-hal berbau mistis itu sedikit percaya setelah mendapat gangguan pada aktivitasnya selama menjaga rumah, yaitu ketika sedang bekerja, lagu yang diputarnya keras-keras itu sering berganti dengan lagu-lagu yang dipercaya mengundang sesuatu ke rumah. Beliau lalu memutuskan untuk mengadakan doa lingkungan dengan mengundang pastor dengan tujuan setelahnya harap diberkatinya rumah itu. Sudah melakukan prosesi pemberkatan, keluarga itu sedikit cukup tenang dan lega. Tapi ku tekankan sekali lagi. Pastor itu kan cuma memberkati, apakah si melati berbau busuk itu pergi? Tidak, ia tidak mau pergi sebelum diperintahkan pulang kembali oleh sahabatnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *