Pagi ini ayam berkokok tidak begitu kencang. Nampaknya ia tidak begitu bersemangat hari ini. Aku Kenendra, laki-laki berumur 21 tahun dan masih mahasiswa semester 4 di salah satu universitas negeri di Semarang. Saat ini pukul 5 pagi, aku harus bergegas pergi ke rumah sahabatku. Aku dan beberapa sahabatku berencana untuk mendaki gunung. Tidak begitu jauh hanya di gunung Ungaran.

Setelah memesan ojek online aku segera menyampirkan tas gunungku di pundak dan membawa beberapa tas jinjing di tanganku. Lalu berjalan keluar rumah untuk menunggu ojek online.

Tidak butuh waktu lama, hanya 15 menit. Aku sudah sampai di rumah Maria, sahabatku. Saat aku berjalan masuk aku berpapasan dengan Prada dan Cio yang sedang membawa beberapa barang untuk dimasukkan ke dalam mobil Prada yang akan digunakan untuk pergi ke Ungaran.

“Nen, tas e tak lebokke sisan neng mobil.” (Nen, tas yang kamu bawa aku masukkan sekalian ke mobil) Kata Prada sambil menjulurkan tangannya di hadapanku.

“Eh sek. Iki lumayan akeh lo. Tak masukke dewe wae.” (Eh, sebentar. Ini lumayan banyak. Nanti aku masukkan sendiri aja.) Kataku yang merasa tidak enak.

“Wes, rak popo. Nek mong semono aku yo kuat kok. Koe mlebu disik. Lita karo Maria wes gawekke sarapan.” (Sudah, tidak apa-apa. Jika Cuma segitu aku juga masih kuat. Kamu masuk saja terlebih dahulu. Lita dan Maria sudah membuatkan sarapan.) Akhirnya aku menurut dengan perkataan Prada.

Aku segera masuk ke dalam rumah Maria setelah memberikan tasku kepada Prada. Aku segera menuju ruang makan di rumah Lita. Ternyata di sana sudah ada Maria, Lita, Dion, dan Panca. Lita dan Maria sedang sibuk memasukkan beberapa makanan ke dalam kotak makan sedangkan Dion dan Panca sedang makan.

“Halo, Nen. Sini makan dulu sebelum berangkat.” Kata Maria.

Aku pun duduk di sampingnya Panca dan memakan makananku. Nasi goreng dan segelas susu menjadi sarapan pagiku.

“Ini yang belum dateng siapa?” Tanyaku.

“Jimmy belum dateng. Rumahnya dia kan paling jauh, mungkin sebentar lagi sampai kok Nen.” Jawab Maria.

Setelah itu kami sedikit bercakap-cakap sambil memakan sarapan.

10 menit kemudian Jimmy, Cio dan Prada bergabung dengan kami yang sedang sarapan. Setelah selesai sarapan kami pun segera berangkat menuju Ungaran menggunakan mobil Prada.

***

Setelah perjalanan 1 jam lamanya kami sampai di tempat registrasi untuk mendaki gunung. Kami membayar tiket masuk terlebih dahulu lalu batu bisa mulai berjalan mendaki gunung. Aku tidak begitu banyak membawa barang. Prada, Dion dan Panca lebih banyak membawa barang dibandingkan aku dan yang lainnya. Kami berjalan beriringan satu persatu, Cio berjalan didepan sebagai pemimpin. Di antara kami berdelapan memang Cio yang paling sering mendaki gunung. Jadi kami percayakan segala rute kepada Cio. Di belakang Cio ada Panca lalu diikuti Maria dan Lita selanjutnya Jimmy dan Dion lalu yang terakhir adalah aku dan Prada.

Udara di sini sangat-sangat sejuk banyak pohon Pinus di sekitar kami. Banyak burung-burung berkicau, berterbangan kesana-kemari. Rasanya sangat damai, aku sangat suka dengan suasana saat mendaki gunung seperti ini.

“Udaranya enak ya Nen.” Kata Dion yang berjalan di depanku.

Aku tersenyum lalu menganggukkan kepala pertanda aku setuju dengan perkataan Dion.

“Sejuk banget gak kaya di Semarang. Panas banget kalo udah jam segini.” Ujarku.

“Iyo, biasane jam semene aku wes nyalakke AC saking panase.” (Iya, biasanya aku sudah kembali menyalakan AC karena udaranya yang sangat panas.) Jawab Dion.

Aku tertawa kecil mendengar perkataan Dion.

Aku menengok ke belakang mengecek Prada yang ada dibelakangku. Ku lihat Prada sedang melihat ke kanan dan ke kiri menikmati pemandangan hutan dan pohon-pohon yang menjulang tinggi. Aku merasa sedikit tidak enak hati karena Prada membawa barang paling di antara kita. Memang badannya yang paling besar dan tinggi kuat untuk membawa barang sebanyak itu. Tapi aku tetap merasa tidak enak. Akhirnya aku berinisiatif untuk menawarkan minum pada Prada.

“Pa, mau minum?” Tanyaku sambil menyodorkan termos yang ku kalungkan di leherku.

“Ndak, Kanendra. Aku belom haus. Kamu aja yang minun.” Jawab Prada sambil tersenyum kepadaku.

“Aku juga belom haus. Tapi kamu bawa barang yang paling banyak. Opo gak kesel?” Tanyaku lagi.

“Ndak, Nen. Udah biasa aku bawa barang banyak kaya gini. Kamu itu lo yang jarang muncak apa ndak capek?” Kata Prada.

Aku menggelengkan kepala. Saat ini aku merasa belum lelah karena hampir setiap hari aku olahraga futsal jadi tubuhku sudah cukup terbiasa.

Tidak terasa kami sudah sampai di pos kedua. Di pos kedua ini berupa air terjun kecil dan sungai yang mengalir jernih. Kami beristirahat sebentar di sini. Kami berdelapan berpasang-pasangan lalu berpencar kesana-kemari untuk berfoto. Aku berpasangan dengan Prada, Jimmy dengan Dion, Cio dengan Panca, dan Lita dengan Maria.

Aku dan Prada berjalan menghampiri pinggir sungai. Airnya benar-benar jernih. Tanganku benar-benar gatal ingin menyentuh air sungai itu. Saat ku sentuh airnya benar-benar dingin. Aku sangat senang berada disini. Airnya jernih dan dingin, udaranya yang sejuk membuat damai hatiku.

“Kanendra, lihat sini. Aku foto dulu buat kenang-kenangan.” Kata Prada.

Aku segera membenarkan rambutku dulu sebelum berpose dua jari. Setelah aku benar-benar siap, Prada segera memotretku menggunakan kamera di tangannya. Beberapa pose ku lakukan dan Prada dengan cekatan memotretku.

Setelah puas berpose aku berjalan mendekati Prada untuk meminta kamera di tangannya dan menyuruhnya untuk bergantian dengan ku. Prada pun menurut dan berpose hampir mirip denganku saat aku memotretnya.

Kami sudah cukup merasa puas setelah memotret satu sama lain. Kami berencana memotret pemandangan air mancur dan sungai. Namun saat sedang memotret beberapa pemandangan kami dihampiri oleh seorang kakek tua.

“Halo nak. Kalian sedang apa?” Tanya kakek itu.

Aku dan Prada sedikit terkejut saat kakek itu berhenti dan menanyai kami berdua.

“Kami sedang mendaki gunung kek, kebetulan kami sedang libur semester jadi memilih untuk mendaki gunung.” Jawab Prada.

“Oh begitu. Hati-hati ya nak dijalan. Jangan melanggar peraturan-peraturan yang ada ya. Jangan berbuat yang aneh-aneh juga ya nak. Soalnya gunung itu kan tempat yang sakral.” Kata Kakek itu.

Aku dan Prada menganggukkan kepala..

“Tapi nak, kalian yakin mau melanjutkan perjalanan?” Tanya kakek itu lagi.

“Iya kek, kami yakin.” Jawabku

“Nak benar-benar tolong diingat ya pesan kakek yang tadi. Silahkan melanjutkan perjalanan. Semoga beruntung. Kakek duluan ya.” Ujar sang kakek sambil tersenyum lalu pergi.

Aku dan Prada kembali memotret beberapa pemandangan. Aku menengok ke arah kakek namun kakek itu sudah tidak ada.

‘Cepat sekali Kakek itu jalannya.’ Batinku.

Aku segera menyingkirkan pikiran-pikiran anehku.

***

Kami pun kembali melanjutkan perjalanan. Namun baru sebentar kami berjalan Jimmy berkata jika tasnya sepertinya tertinggal satu di dekat air terjun tadi.

“Isinya apa saja Jim? Penting banget gak Jim? Kalo penting kita balik lagi buat ngambil tasmu.” Kata Panca.

“Penting mas Panca. Di sana ada beberapa baterai kamera, handphone dan beberapa barang lainnya.” Jawab Jimmy.

Ternyata memang tas yang tertinggal berisi barang-barang penting. Akhirnya kita berjalan kembali ke pos 2. Namun ternyata kita tidak menemukan tas yang dimaksudkan oleh Jimmy. Akhirnya kita memilih untuk berpencar lagi. Aku dan Prada mencoba mencari tas Jimmy di tempat kami berfoto-foto tadi.

Ternyata kami bertemu kakek itu lagi saat sedang mencari tas Jimmy. Kakek itu memberikan kami sebuah tas cangklong yang tidak terlalu besar.

“Ini tas temanmu. Nak kalian benar-benar yakin mau melanjutkan perjalanan kalian? Kakek tanya sekali lagi.” Kakek itu kembali bertanya lagi.

Sejujurnya aku benar-benar merasa sangat bingung kenapa kakek itu bertanya berulang kali apakah kami benar-benar akan melanjutkan perjalanan kami. Apakah ada sesuatu yang aneh sampai-sampai kakek itu datang lagi dan bertanya lagi..

“Iya kek.” Jawab Prada dan aku bersamaan.

“Kakek sarankan ya nak. Jangan dilanjutkan ya nak. Permasalahannya nyawa kalian sebagai taruhannya nak.”

Aku dan Prada saling bertatapan bingung. Apa maksudnya nyawa kita jadi taruhannya?

“Teman kalian yang memiliki tas ini membawa sebuah jimat nak. Ini sangat berbahaya jika kalian melanjutkan perjalanan kalian.” Kata kakek itu.

Aku dan Prada benar-benar sangat terkejut. Jimmy membawa jimat? Untuk apa?

“Itu hanya saran dari kakek tapi terserah pada kalian saja. Kakek pamit lagi ya.” Kakek itu lalu pergi lagi.

Aku dan Prada segera mencari teman-teman. Kami akan berdiskusi baiknya seperti apa. Namun sebelum itu aku sudah berkata pada Prada untuk jangan marah-marah dan menahan diri.

Akhirnya kami berkumpul lagi. Aku memberikan tas itu kepada Jimmy. Dan Prada siap-siap untuk berbicara.

“Ini mau lanjut naik atau enggak?” tanya Prada.

“Loh, Prada. Ada apa kok tanya begitu? Kamu capek ya bawa barang paling banyak? Ayo kita bagi aja ya barangnya biar kamu gak begitu capek.” Kata Lita.

“Aku aman kok, Lit. Tapi bahaya kalo kita lanjutkan untuk naik gunung, Lit.” Jawab Prada.

Aku merasa lega karena Prada tidak menunjukkan ekspresi marahnya sekarang. Tidak seperti tadi saat pertama mendengar perkataan kakek.

“Loh bahaya kenapa?” Tanya Cio.

“Ehm… Sebelumnya aku mau nanya dulu sama Jimmy.” Kataku.

“Kenapa nan?” Saut Jimmy.

“Kamu jujur ya Jim. Kamu bawa jimat ya?” kataku.

“Loh, kok kamu nuduh sih nan?” Jawab Jimmy sedikit emosi dengan pertanyaanku.

“Loh? Kok kamu marah Jim? Kanendra tanya baik-baik loh Jim. Kan bisa dijawab baik juga.” Saut Prada tidak kalah sewot denga Jimmy.

“Eh eh udah kok jadi berantem ya?” lerai Maria.

“Kanendra duluan yang nuduh aku. Terus Prada juga ikut-ikutan.” Jawab Jimmy.

Aku menghela nafas. Apa yang harus kulakukan saat ini? Sejujurnya aku sangat takut untuk melanjutkan perjalanan.

“Sudah jangan berantem ya. Jimmy beneran gak bawa kan? Berarti bisa kita lanjut kan?” Kata Panca.

Semua mengangguk kecuali aku dan Prada. Kita berdua hanya pasrah saja dan berdoa semoga semuanya akan baik-baik saja.

Kami melanjutkan perjalanan lagi. Tapi tiba-tiba Jimmy dan Dion berhenti aku dan Prada yang berada di barisan paling belakang heran. Kenapa tiba-tiba berhenti? Aku dan Prada pun berjalan mendekati keduanya.

“Ada apa Yon, Jim?” tanyaku.

“Gak tau ni, Jimmy tiba-tiba berhenti aku juga bingung. Pas tak tanya kenapa malah diem aja.” Jawab Dion.

Aku dan Prada segera berjalan lebih mendekat lagi kearah mereka. Aku dan Prada menatap wajah Jimmy yang terlihat ketakutan.

“Jim kamu kenapa kok wajahnya takut gitu si?” tanyaku khawatir.

“N-nen. Maaf nen aku bohong. Aku beneran bawa jimat nen. Aku takut, aku lihat ‘sesuatu’ banyak banget nen.”

Setelah mendengar perkataan Jimmy kami bertujuh sangat terkejut ditambah lagi Jimmy sekarang menangis ketakutan. Kami juga jadi takut. Akhirnya kami kembali berdiskusi lagi.

“Kita pulang saja ya ini. Sepertinya benar-benar makin bahaya kaya kata Prada tadi.” Kata Cio.

“Iya pulang saja. Jimmy juga kasian banget.” Kata Maria.

“Tapi sebelum itu kita perlu bakar jimatnya dulu atau enggak?” Tanya Dion.

“Jangan Dibakar!” Seru Jimmy.

Kita semua dibuat kaget lagi dengan perkataan Jimmy. Tapi kami tidak berani bertindak apa-apa. Kami takut semakin melanggar peraturan yang ada.

“Jimmy yakin? Kamu gak papa kaya gini waktu perjalanan pulang. Jalannya agak jauh lo Jim.” Akhirnya Lita memberanikan diri untuk tanya.

“Yakin! Kan aku yang ngerasain. Pokoknya jangan dibakar!” Jawab Jimmy agak ngegas.

“Yaudah oke kalo gak mau dibakar. Tapi jawabnya santai dong Jim. Ini cewek lo. Jangan dibentak kaya gitu. Udah ayo kita pulang.” Kata Prada.

Akhirnya kita bener-bener pulang. Namun sekarang yang memimpin perjalanan adalah Prada dan aku dibelakang Prada dan diikuti yang lainnya di belakang ku.

Saat perjalanan pulang Jimmy sedikit tersandung-sandung dan menangis takut. Kami tidak bisa berbuat apa-apa karena itu adalah pilihan Jimmy.

Akhirnya setelah perjalanan yang cukup panjang kami sampai di tempat awal. Di pintu kami bertemu oleh seorang petugas laki-laki yang sedang bersih-bersih. Petugas itu mengajak kami mengobrol terlebih dahulu.

“Tadi kalian ketemu kakek?” Tanya petugas itu.

“Saya endak pak.” Jawab Maria.

“Saya juga endak pak.” Jawab Panca.

“Saya dan dia ketemu pak.” Jawab Prada sambil menunjukku.

“Untung loh kalian ketemu tadi. Kalo ndak tu kalian ndak bisa pulang lo kayanya.” Jawab petugas itu.

“Kalian dilindungi loh sama kakek.”

“Mas, jimatnya kasih ke saya saja biar saya bakarkan. Biar masnya aman.” Ujar petugas itu.

Jimmy akhirnya memberikan jimat itu pada petugas. Petugas itu dengan segera membakar.

“Mas besok-besok ndak usah bawa ginian ya. Mas nya sendiri toh yang kena?” Jimmy menganggukkan kepala. Sepertinya dia benar-benar sudah kapok.

Syukur deh. Aku bersyukur aku jadi banyak mendapat banyak pelajaran hidup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *