Opini

Alternative Universe dan Hak Ciptanya
lambang copyright

Alternative Universe (AU) merupakan genre pada fiksi yang menceritakan kisah di dunia yang berbeda dengan dunia asli, baik latar belakang, karakter, sampai pada plotnya. AU biasanya dibuat oleh penggemar suatu karya fiksi untuk mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan yang berbeda dari dunia asli.

Di beberapa platform, kegemaran membaca AU didasari pada hal-hal yang menyenangkan. Memungkinkan penggemar untuk mengeksplorasi kemungkinan yang berbeda dari dunia asli, karakter-karakter favorit mereka membuat pilihan berbeda, membuat penggemar berspekulasi dan berimajinasi menjadi cara menyenangkan untuk menikmati AU. Selain hal itu, AU juga dapat menjadi cara menyenangkan untuk terhubung dengan penggemar lain.

Dari sekian banyaknya aplikasi, X atau yang dikenal sebelumnya dengan nama Twitter itu, menjadi salah satu tempat AU dipublikasikan dan dibaca oleh berbagai golongan pembaca. K-Pop dan Anime, menjadi salah satu dari sekian banyak budaya populer yang paling digemari.

Memungkinkan penggemar untuk melihat karakter favorit mereka baik itu idola K-Pop maupun karakter Anime yang memiliki hidup dalam situasi berbeda, penggemar membuat AU yang berasal dari kedua budaya populer tersebut lalu mempublikasikannya.

Kedua budaya populer yang digemari itu, membuat hampir semua karya kepenulisan AU selalu ramai dan laris. Tak heran juga jika karya-karya tersebut bahkan sampai dihubungi oleh tim penerbit kemudian dicetak. Bukan hanya itu saja, penulis kadang membuat merchandise yang berasal dari AU tersebut dan diperjualbelikan sebagai bentuk fanservicenya.

Penggunaan wajah idola K-Pop dan karakter Anime

Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Pasal 9 ayat (2) tentang hak cipta, mengemukakan bahwa setiap orang yang melaksanakan hak ekonomi seperti penerbitan ciptaan, penggandaan, pengadaptasian, pengaransemenan atau pentransformasi ciptaan dan lain sebagainya itu wajib mendapatkan izin pencipta atau pemegang hak cipta. Pada ayat (3) juga dikemukakan bahwa jika setiap orang tidak memiliki izin pencipta atau pengarang, dilarang melakukan penggandaan atau penggunaan secara komersial ciptaan.

Di atas disebutkan beberapa pasal dan ayat pendukung yang menyatakan bahwa penerbitan sampai proses pencetakan karya AU maupun merchandise yang diperjualbelikan ini memiliki hukumnya dan tidak boleh dilakukan tanpa adanya kerja sama atau kontrak dengan pencipta asli.

Seperti hal yang disebutkan tadi, penggunaan wajah idola K­-Pop maupun karakter Anime sampai tahap lanjut tadi tidak diperbolehkan. Namun, para penggemar kedua budaya populer itu memiliki kesepakatan bersama. Pertama, jika wajah idola K-Pop atau karakter Anime tersebut ingin dibuat ceritanya sendiri lewat AU hanya diperbolehkan sampai publikasi di akun masing-masing pada suatu platform. Kedua, jika ingin dipublikasikan maka harus mengganti secara keseluruhan mulai dari nama asli idola maupun karakter sampai pada penggunaan wajahnya yang diganti dengan ilustrasi buatan sendiri yang jauh dari kedua budaya populer itu. Selebihnya, jika masih melakukan tindakan di luar kedua hal tersebut, penggemar membuat kesepatakan untuk melaporkannya kepada pihak agensi idola K-Pop itu bernanung atau mangaka maupun tempat studio tempat studio karakter Anime diciptakan.