Kaksaacitya.com – Akhir-akhir ini di Indonesia sedang gencar-gencarnya di adakan konser musik. Sejak pandemi telah usai masyarakat Indonesia berbondong-bondong kembali menjalankan rutinitas awal, salah satunya dengan menonton konser. Baik konser outdoor maupun konser indoor memiliki banyak peminat. 

Konser musik merupakan salah satu pertunjukan atau acara langsung yang memiliki tujuan untuk menghibur. Semua kalangan baik perempuan atau laki-laki dapat hadir untuk menonton konser. Selain itu, tidak ada batasan usia untuk menonton konser mulai dari anak kecil hingga orang tua pun dapat menonton konser. Jadi dapat diartikan tempat ini merupakan tempat yang bebas, aman, dan dapat digunakan untuk bersenang-senang.

Akhir-akhir ini di Indonesia banyak kedatangan artis dari luar negeri untuk melakukan konser musik. Pada tahun 2023 ini, Indonesia merupakan salah satu negara yang banyak menyelenggarakan konser, baik konser yang berbintang tamu lokal maupun luar negeri. Beberapa konser dengan artis dari luar negeri pada tahun ini seperti Blackpink, Coldplay, F4 Thailand, TXT, Nanon, dan masih banyak lagi. Beberapa artis lokal juga menyelenggarakan konser seperti, Sheila on 7, Tiara Andini, Mahalini, Hindia, Yovie & Nuno dan masih banyak lagi.

Akan tetapi, dibalik kemeriahan konser-konser tersebut banyak masyarakat yang mengaitkan konser tersebut dengan LGBT. Contohnya seperti, konser Coldplay kemarin yang dirumorkan memiliki hubungan atau berkaitan dengan isu LGBT. Hal ini dikarenakan masyarakat menganggap Coldplay merupakan salah satu grub band yang mendukung LGBT sehingga banyak masyarakat yang menolak konser tersebut diselenggarakan hingga banyak yang melakukan demo. Selain itu, banyak konser yang dibatalkan karena dianggap berkaitan dengan LGBT, seperti konser Gulf Kanawut serta konser Billkin & PP yang ditunda dengan jangka waktu yang tidak diketahui.

Konser Musik dan Kaitannya dengan LGBT

Terdapat beberapa faktor yang membuat konser kerap kali dikaitkan dengan isu LGBT. Faktor pertama yaitu terdapat lirik lagu yang dinyanyikan berkaitan dengan LGBT. Contohnya seperti lagu-lagu yang berkaitan dengan cinta sesama jenis. Faktor kedua, para penonton atau penikmat konser musik yang menunjukkan dukungannya terhadap LGBT. Contohnya seperti membawa bendera yang menggambarkan LGBT yaitu bendera pelangi. Faktor ketiga adalah artis yang menunjukkan dukungannya terhadap LGBT. Contohnya seperti statement yang pernah diucapkan oleh artis yang merujuk mendukung LGBT. Faktor-faktor ini yang digunakan oleh masyarakat untuk mengaitkan antara konser musik dengan isu LGBT.

Di Indonesia sendiri LGBT merupakan hal yang tabu dan dilarang karena Indonesia merupakan negara yang menganut agama. LGBT juga merupakan salah satu kasus sensitive dan banyak masyarakat yang menolak keberadaan LGBT serta menganggap LGBT merupakan hal yang menyimpang. Oleh sebab itu, terdapat beberapa pihak yang menolak konser musik untuk diadakan dengan mengundang artis luar negeri karena mempertimbangkan tiga faktor diatas.

Namun, terlepas dari isu LGBT penting diingat untuk menegaskan bahwa konser musik adalah acara hiburan yang seharusnya terbuka untuk semua orang, tanpa memandang orientasi seksual atau identitas gender. Penonton konser musik harus saling menghormati, terlepas dari perbedaan mereka. Tidak seharusnya terdapat diskriminasi terhadap beberapa kelompok kerena konser sendiri hanya bertujuan untuk menghibur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *