Sinar mentari perlahan masuk ke sela-sela jendela kamar seorang gadis yang masih tertidur pulas. Gadis itu bernama Kanara Divanya. Lebih akrab dipanggil dengan sebutan Nara. Seorang mahasiswi semester akhir di salah satu Universitas negeri yang berada di Yogyakarta. 

Karena merasa terganggu dengan sinar mentari, perlahan ia membuka matanya. 

“Kok ada rasa hangat sih, tenyata sinar mentari udah tinggi. Pantas saja. Perasaan cepat banget berganti hari,” ucap Nara. 

Melihat ke samping tempat tidur ternyata laptopnya masih dalam posisi menyala. Ia lupa mematikannya atau mungkin ia ketiduran. Entahlah, sepertinya semalam ia sangat lelah. Nara sedang banyak-banyaknya mengerjakan revisian tugas. Hingga terkadang ia lupa untuk mengistirahatkan diri dan pikirannya. 

“Hah! Ternyata laptopku masih nyala. Eh eh tunggu dulu, tugas revisianku semalam udah aku simpan belum ya? Duh semoga aja udah,” ujar Nara dengan nada panik. 

Ternyata file tugas revisian yang nara kerjakan semalam sudah tersimpan dengan baik. Namun, setelah diingat-ingat kembali ternyata ada tugas yang belum tersimpan dan sudah hilang. Nara berusaha untuk mencari cara agar tugas yang belum tersimpan dapat dilihat kembali dan kemudian disimpannya. Sudah beberapa saat tetapi Nara belum menemukan cara untuk mengembalikan file yang hilang. Akhirnya Nara meminta bantuan temannya untuk mengembalikan tugas tersebut. 

“Aduh Nara bodoh banget sih kamu. Harusnya semalam sebelum ngantuk disimpan dulu itu tugas revisian. Kalau begini kan jadi repotin diri sendiri. Lagian ini kenapa banyak banget tugas revisianku ya Tuhan,” maki Nara pada dirinya sendiri. 

“Ehm,” (Nara bergumam sambil berpikir sejenak)

“Eh apa aku minta tolong ke Rama ya, dia kan cukup bisa tuh kalau tentang masalah begini. Ah iya aja deh, aku coba hubungin dia.” 

Nara memutuskan untuk menghubungi Rama dan meminta bantuannya. 

“Halo Rama, ini aku Nara. Aku mau minta tolong ke kamu kira-kira bisa gak ya Ram?” tanya Nara.

“Iya halo Nara, minta tolong apa? Kalau aku bisa bantu ya pasti aku bantu,” jawab rama. 

“Jadi gini, semalam aku ngerjain tugas revisian tapi ternyata aku lupa menyimpan dan ternyata tadi pagi pas aku cek filenya udah hilang. Nah itu kira-kira bisa dibalikin gak ya?” tanya Nara. 

“Oh gitu masalahnya, boleh deh aku coba dulu. Mau ketemuan di mana?” tanya Rama. 

“Ehm gimana kalau di Kafe Kejora aja, nanti siang. Bisa gak?”

“Oke bisa kok Nar, nanti kabar-kabar aja,” ucap Rama. 

“Makasih banyak ya Ram, sampai ketemu nanti,” kata Nara. 

Langsung saja Nara mulai bersiap-siap untuk pergi ke Kafe kejora. Nara benar-benar sangat berharap jika Rama dapat membantu mengembalikan pekerjaan revisiannya yang hilang tadi. Karena bagi Nara itu sangat penting bagi kelangsungan kuliahnya dan juga tugas itu besok harus dikumpulkan ke dosen pembimbingnya. Perkuliahan yang dijalani Nara memang membuatnya terkadang merasa lelah dan putus asa. Ada saja cobaan yang harus ia hadapi. 

Setelah berpamitan ke kedua orang tuanya, langsung saja Nara on the way menuju Kafe Kejora. Perjalanan menempuh waktu sekitar 20 menit saja. Selama diperjalanan, Nara ditemani lagu-lagu milik Tulus, salah satu penyanyi kesukaannya. Tak terasa Nara telah sampai di Kafe Kejora. Langsung saja Nara turun dari mobil dan segera masuk. 

Begitu Nara masuk, ternyata Rama belum datang. Nara memutuskan untuk mencari tempat duduk yang nyaman dan memesan minuman. Tidak lama setelah itu akhirnya Rama datang juga. 

“Eh hai Nar, udah lama ya? Sorry tadi kejebak macet sebentar,” ucap Rama. 

“Hai Ram, enggak kok. Aku juga barusan dateng. Eh pesen minum aja dulu,” kata Nara. 

“Iya, santai aja lah,” jawab Rama. 

Langsung saja Nara menjelaskan tentang permasalahan yang ia alami. Degan cekatan juga Rama langsung mencoba mengembalikan tulisan yang sempat Nara kerjakan tadi malam. Nara menunggu dengan harap-harap cemas. Dalam hatinya ia terus berdoa agar Rama berhasil mengembalikan revisian Nara. 

Setelah menunggu beberapa saat akhirnya Rama berhasil mengembalikan tulisan Nara yang sempat hilang semalam. 

“Nah akhirnya nih Nar, udah bisa kembali tugasmu,” ucap Rama. 

“Aduh puji syukur banget Ram. Makasih banyak-banyak ya Ram. Gak tahu lagi deh kalau gak ada kamu gimana asib revisianku. Mana dikumpul besok lagi,” jelas Nara. 

“Iya sama-sama Nar, kalau butuh bantuan lagi hubungi aku aja. Ya gini nasib mahasiswa semester akhir, banyak revisian terus. Semangat aja lah biar cepat lulus kita,” jawab Rama. 

“Iya harus dong, itu revisian semoga sesuai yang diinginkan dosen deh.” 

“Amin…amin…” 

Rama dan Nara akhirnya pun berpisah untuk kembali ke rumah masing-masing. Sesampainya di rumah, langsung saja Nara mengirimkan file tugas revisiannya ke dosen pembimbingnya. Nara sangat berharap tugas revisiannya kali ini langsung disetujui. Harapannya Nara dapat lulus dengan tepat waktu. 

Keesokkan harinya, seperti biasa Nara berangkat ke kampus untuk menyelesaikan bimbingannya dan juga mengecek hasil revisian yang semalam ia kirim ke dosen pembimbingnya. Lalu Nara berpamintan dengan kedua orang tuanya. 

“Pagi ma, pa. Aku pamit berangkat ke kampus dulu ya. Seperti biasa ada bimbingan lagi. Doakan Nara ya ma, pa supaya hasil revisian Nara semalem udah benar,” ucap Nara kepada orang tuanya. 

“Iya Nar, hati-hati di jalan ya semoga sukses bimbingannya,” ucap sang mama. 

“Amin, semoga bisa membanggakan diri Nara ya yang udah kerja keras mengerjakan revisian,” doa sang papa. 

“Iya amin ma, pa. Makasih doa dan dukungannya ke Nara selalu,” kata Nara. 

Nara mulai berangkat ke kampus mengendarai mobil pemberian dari sang papa saat ulang tahunnya yang ke 21 tahun. Itu artinya mobil ini baru tahun lalu dibelikan oleh sang papa. Selama dalam perjalanan Nara terus saja berdoa dang berharap agar hasil revisiannya semalam diterima. Semoga saja nasib baik berpihak kepadanya. Setelah adanya drama file tulisan hilang tetapi akhirnya bisa dikembalikan berkat bantuan dari Rama. 

Sesampainya di kampus, Nara berusaha menenangkan pikirannya dan juga selalu menyemangati diri sendiri. Langsung saja Nara menuju ruangan dosen pembimbingnya untuk mengetahui hasil revisiannya. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya tiba juga giliran Nara untuk masuk ke ruangan sang dosen. 

“Silakan duduk Nara. Saya sudah memeriksa hasil revisianmu semalam. Dan saya merasa cukup kecewa dengan hasil revisianmu yang menurut saya sangat jauh dengan yang saya harapkan. Sayang sekali, padahal kamu sudah mencapai setengah jalan menuju selesai. Di dalam file itu ada beberapa catatan dari saya yang harus kamu perbaiki. Saya kasih waktu untuk perbaikan selama tiga hari. Jika saya sudah menyetujui kamu baru bisa lanjut ke bab paling akhir,” jelas sang dosen panjang lebar. 

“Baik Pak. Secepatnya akan saya revisi ulang dan akan saya kirimkan kembali,” jawab Nara. 

“Oke kalau begitu kamu bisa keluar dan juga kalau ada hal yang kurang kamu mengerti bisa tanyakan saya di jam kerja,” ucap sang dosen. 

“Baik Pak. Kalau begitu saya pamit. Terima kasih,” ucap Nara. 

Begitu keluar dari ruangan sang dosen, rasa kesal Nara begitu memuncak. Rasanya ia sudah tidak bisa lagi merevisi tugas itu. Akhirnya Nara memutuskan untuk pulang. 

Tak terasa hari telah berganti. Butuh tiga hari untuk Nara dapat memahami dan mengetahui keinginan dari sang dosen terhadap revisi tugasnya. Nara rela harus bergadang demi menyelesaikan revisiannya. Beruntung kedua orang tuanya memberikan dukungan berupa perhatian-perhatian. Sang mama selalu menyiapkan makanan yang mendukung kesehatan tubuh, begitu juga dengan sang papa yang selalu mengingatkan Nara untuk selalu minum vitamin. 

Hari di mana Nara harus mengumpulkan revisian tugasnya dan juga menghadap sang dosen pun tiba. Dengan segera Nara langsung menuju kampus. Dalam hati ia terus berdoa agar revisiannya kali ini dapat diterima oleh sang dosen. 

Beberapa saat kemudian Nara dapat bernapas lega karena sang dosen menyetujui hasil revisian Nara. Dengan begitu Nara bisa langsung lanjut untuk mengerjakan bab selanjutnya. 

Sesampainya di rumah, Nara langsung menghampiri orang tuanya untuk berterima kasih. 

“Mama, papa akhirnya tugas revisian Nara diterima sama dosen pembimbing Nara. Jadi Nara bisa langsung lanjut ke bab selanjutnya. Makasih ya ma, pa buat semua dukungannya selama ini. Tanpa kalian Nara pasti akan merasa sangat putus asa,” ucap Nara panjang lebar.

“Wah selamat anak mama sayang, mama bangga sama kamu. Iya, sama-sama. Kamu harus lebih semangat lagi ya habis ini,” jawab sang mama.

“Iya Nara. Papa bangga sama hasilmu, semoga lancar terus sampai lulus ya,” sambung sang papa. 

“Aminnn…..makasih mama, papa,” kata Nara. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *