Foto/SINDOnews

Tepat sudah 47 tahun setelah aku menyaksikan peristiwa keji di depan mataku. Hingga kini bayang-bayang darah dan bau anyir masih terngiang-ngiang setiap harinya. Potongan-potongan adegan penjagalan manusia terus mengikutiku. Mungkin aku sedikit tidak waras. Namun kini aku sudah merasa damai karena aku rajin menunaikan ibadah.

Aku memandangi foto lawas yang hampir pudar gambarnya termakan usia. Foto itu adalah satu-satunya yang kumiliki, foto ayah dan ibuku. Aku jadi teringat saat-saat terakhir aku harus berpisah dengan mereka.

Saat itu usiaku masih 7 tahun. Aku bingung sebenarnya apa yang terjadi. Mengapa banyak orang yang ditangkap oleh pria-pria berbaju loreng dan bersenjata? Tiap hari bahkan tiap jam pasti ada suara-suara teriakan ketakutan dan minta tolong. Aku sungguh tidak paham.

Aku tidak boleh bermain lagi di luar rumah katanya di luar sana berbahaya bagi anak-anak sepertiku. Kakekku saja pulang seusai bertanam kangkung di dekat sungai langsung ketakutan. Katanya sungai sudah dipenuhi puluhan mayat korban pembunuhan massal.

Malam tiba, artinya aku harus bersembunyi di bawah ranjang bersama kakekku dengan kegelapan yang menyelimuti. Jika malam tiba setiap rumah warga tidak ada yang menyalakan lampu, semuanya bersembunyi dalam gelap dan ketakutan.

Kudengar suara pintu rumah terbuka dan langkah kaki memasuki rumah. Aku semakin ketakutan dan hendak menangis, kakekku langsung membungkam mulutku agar suara isakanku tidak terdengar oleh orang-orang tersebut. “Mana suamimu?” teriakkan itu sampai membuatku kaget.

“Aku tidak tahu,” terdengar suara ibu lirih. Kenapa ibu keluar dari persembunyian, aku semakin khawatir. Pikiranku mulai kemana-mana. Tiba-tiba, plak! Ibuku ditampar. Rasanya ingin sekali aku menghampiri ibu namun kakekku terus memelukku erat.

”Bawa wanita ini!” Setelah mereka pergi membawa ibu dengan segera aku dan kakek keluar dari bawah tempat tidur menuju dapur tempat persembunyian ayah dan ibuku. Ternyata ayah juga tidak ada di dapur. Kemana dia?

Siang harinya terdengar akan ada hal besar terjadi di lapangan desa. Para tetangga beramai-ramai datang ke lapangan. Aku diam-diam mengikuti mereka tanpa sepengetahuan kakek. Sampai di sana aku lihat pria-pria berbaju loreng bersenjata sedang berjaga. Ada

banyak korban tawanan hanya memakai celana pendek tanpa baju sedang menggali lubang dengan ukuran yang lebar dan dalam. Aku tambah bingung sebenarnya apa yang akan terjadi. Ekor mataku menangkap kehadiran ayahku di ujung lapangan sana. Sama seperti yang lain ayahku juga sedang menggali lubang. Saat aku bergerak menuju ayah ada seseorang yang menahanku, ternyata itu kakekku.

“Jangan kesana, Adam” kata kakekku kepadaku. Selang beberapa waktu semua tawanan itu masuk ke dalam lubang yang sebelumnya mereka buat. Pikiranku sudah kacau, takut sesuatu yang ada di pikiranku terjadi. Kemudian terdengar suara bentakan yang diketahui kapten dari pria-pria berseragam tersebut. Mereka disuruh untuk baris dengan tangan terikat kebelakang.

“Tembak!” Hancur hatiku melihat para tawanan tersebut tumbang satu per satu akibat peluru menembus dada mereka. Terlebih lagi saat melihat ayah ditembak, sakit hatiku melihatnya. Aku tidak tahu apa yang ayahku perbuat hingga dia dibantai dengan kejam seperti itu.

Saat perjalanan pulang aku dan kakekku didatangi oleh seorang tetangga yang mengatakan jika dia melihat mayat ibuku di pinggir jalan desa Bersama dengan mayat-mayat lainnya. Tak butuh lama aku dan kakekku sampai di sana. Kulihat kanan dan kiri tepi jalan dipenuhi mayat-mayat yang akan dikuburkan massal. Perlahan ku telusuri jalanan mencari keberadaan ibuku. Betapa hancurnya aku melihat ibuku terbaring dengan penuh luka gosong di tubuhnya. Untungnya ibuku masih berpakaian walaupun robek di berbagai sisi.

Kulihat lamat-lamat wajah ibuku yang sudah berubah warna gosong. Katanya ibuku dibunuh dengan cara disengat arus listrik bertegangan tinggi. Aku mendengar bisik-bisik bahwa banyak korban asal tangkap. Mereka tidak salah dan tidak tahu menahu tapi dihabisi dengan biadabnya.

Aku hanya bisa menangis di pelukan kakekku. Saat ini hanya kakek yang aku punya di dunia ini. Saat di rumah aku terus menangis, rasanya sulit untuk menghentikan tangisan ini. Ayahku dibunuh di depan mataku sendiri dan ibuku meninggal dengan tragis bahkan mereka dikuburkan dengan tidak layak.

Puluhan tahun dari peristiwa itu telah berlalu, akupun sudah tahu bahwa ayah dan ibuku bukanlah seorang PKI. Mereka hanyalah rakyat biasa yang menjadi korban salah tangkap. Walau bagaimanapun, titik terang dari kasus ini masih jauh dari kata tuntas dan akan meninggalkan bekas luka bagiku untuk selamanya. Di usiaku yang sudah tua ini rasanya aku tidak ingin mengingat lagi peristiwa pembantaian itu. Aku masih belum terima orang tuaku dibunuh oleh mereka pria berseragam loreng.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *